Rupert Chawner Brooke lahir pada 3 Agustus 1887 dan kemudian wafat pada 23 April 1915 adalah seorang penyair Inggris yang dikenal karena soneta perang idealisnya yang ditulis selama Perang Dunia Pertama , khususnya Mahakaryanya yang ia beri judul The Soldier . Dia juga dikenal karena ketampanannya yang awet muda. 


Tampan, Berkharisma, dan berbakat, Brooke adalah pahlawan nasional bahkan sebelum kematiannya pada usia 27 tahun. Puisinya, dengan patriotisme yang diagungkan dan lirik yang anggun, dipuja di negara yang belum merasakan efek dari dua perang dunia.


Brooke adalah  anak kedua dari tiga bersaudara. Dia enam tahun lebih muda dari Richard, seorang pecandu alkohol yang meninggal selama tahun pertama Rupert di Cambridge, dan tiga tahun lebih tua dari Alfred, yang terbunuh dalam aksi dua bulan setelah kematian Rupert. Antara Richard dan Rupert ada seorang anak perempuan yang meninggal saat masih bayi. 


Kehidupan ekonomi Rupert Brooke adalah tipikal hampir setiap anak laki-laki Inggris saat itu. Ia termasuk anggota keluarga yang berkecukupan. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah di Rugby School, sekolah umum Inggris tempat Thomas Arnold mengembangkan sistem yang keras dan brutal yang dimaksudkan untuk membentuk anak laki-laki menjadi pemimpin kekaisaran. Disana pula Brooke menimba ilmu. Ia menekuni bahasa Latin dan Yunani, dan mulai menulis puisi sejak Sekolah.


Setelah lulus sekolah, Brooke melanjutkan pendidikannya di Cambridge pada tahun 1906. Selama tiga tahun di Cambridge,dia menonjol di Masyarakat Fabian (Sosialis) dan menarik banyak teman. Termasuk di antara kenalannya Virginia Woolf, penulis Lytton Strachey, yang mendorongnya pada hubungan asmara sesama jenis dengan James Strachey, adik lelaki Lytton Strachey yang lebih terkenal. Dia pernah menulis tentang James Strachey, yang jatuh cinta padanya, sebuah surat terkenal yang merinci pertemuan seksual dengan seorang teman dari Rugby. 


Brooke sangat menyadari daya tariknya sangat besar baik bagi pria maupun wanita, ia tidak mungkin gagal dalam kehidupan percintaannya. 


Selain memikat Strachey, ia juga menarik perhatian ekonom John Maynard Keynes dan saudaranya Geoffrey dan penyair William Butler Yeats. 


Brooke masih terus menulis puisi, meskipun puisinya dari periode ini, terlihat lemah dan belum memikat. Kebanyakan soal cinta dan pengalaman pribadi.  Salah satu contoh karya Puisinya  "The Voice," yang ditulis pada 1909. seperti kebanyakan puisi awalnya, berkutat pada tema cinta dan alam. 


The Voice



Safe in the magic of my woods

   I lay, and watched the dying light.

Faint in the pale high solitudes,

   And washed with rain and veiled by night,


Silver and blue and green were showing.

   And the dark woods grew darker still;

And birds were hushed; and peace was growing;

   And quietness crept up the hill;


And no wind was blowing


And I knew

That this was the hour of knowing,

And the night and the woods and you

Were one together, and I should find

Soon in the silence the hidden key

Of all that had hurt and puzzled me --

Why you were you, and the night was kind,

And the woods were part of the heart of me.


And there I waited breathlessly,

Alone; and slowly the holy three,

The three that I loved, together grew

One, in the hour of knowing,

Night, and the woods, and you ----


And suddenly

There was an uproar in my woods,

The noise of a fool in mock distress,

Crashing and laughing and blindly going,

Of ignorant feet and a swishing dress,

And a Voice profaning the solitudes.


The spell was broken, the key denied me

And at length your flat clear voice beside me

Mouthed cheerful clear flat platitudes.


You came and quacked beside me in the wood.

You said, "The view from here is very good!"

You said, "It's nice to be alone a bit!"

And, "How the days are drawing out!" you said.

You said, "The sunset's pretty, isn't it?"


             .            .            .            .            .


By God! I wish -- I wish that you were dead!




Meskipun karya awalnya dianggap kurang penting, Brooke pada saat itu dianggap sebagai penyair yang serius meskipun belum sempurna. Selain itu, dia adalah sosok yang semakin mencolok di kalangan sastrawan, sebuah ketenaran yang tak diragukan lagi didorong oleh pesona dan ketampanannya

.


Kemudian, rentan waktu antara kelulusannya dari Cambridge pada tahun 1909 dan dimulainya Perang Dunia Pertama pada tahun 1914, sebagian besar waktunya dihabiskan Brooke untuk menulis dan bepergian. 


Puisi-puisinya selama periode ini, yang masih menekankan tema cinta dan alam, mirip dengan kebanyakan penyair dari generasinya, termasuk DH Lawrence , John Drinkwater , dan Walter de la Mare . Penyair ini kemudian dikenal sebagai penyair Georgia (dinamai raja Inggris pada saat itu); syair mereka mencerminkan keasyikan idealis dengan pedesaan dan motif anak muda. Faktanya, Brooke dan banyak temannya menikmati menghabiskan waktu di pedesaan, mandi di sungai setempat dan rebahan di tanah; kegiatan seperti itu membuat mereka mendapat julukan "neo-pagan". Pada saat itu, puisi bertema cinta dan alam, populer dan dihormati, dan koleksi puisi pertama oleh para penulis ini, Puisi Georgia, 1911-1912, sangat sukses diterima masyarakat. 



"The Old Vicarage, Grantchester" adalah kontribusi Brooke untuk Puisi Georgia,dan itu tetap menjadi salah satu puisinya yang paling populer. Puisi tersebut menggambarkan Grantchester, sebuah desa kecil dekat Cambridge tempat Brooke tinggal selama beberapa waktu setelah tahun 1909. 



The Old Vicarage, Grantchester


Just now the lilac is in bloom,

All before my little room ;

And in my flower-beds, I think,

Smile the carnation and the pink ;

And down the borders, well I know,

The poppy and the pansy blow . . .

Oh ! there the chestnuts, summer through,

Beside the river make for you

A tunnel of green gloom, and sleep

Deeply above ; and green and deep

The stream mysterious glides beneath,

Green as a dream and deep as death.

—Oh, damn ! I know it ! and I know

How the May fields all golden show,

And when the day is young and sweet,

Gild gloriously the bare feet

That run to bathe . . .

                                     Du lieber Gott !

 

Here am I, sweating, sick, and hot,

And there the shadowed waters fresh

Lean up to embrace the naked flesh.

Temperanmentvoll German Jews

Drink beer around ;—and there the dews

Are soft beneath a morn of gold.

Here tulips bloom as they are told ;

Unkempt about those hedges blows

An English unofficial rose ;

And there the unregulated sun

Slopes down to rest when day is done,

And wakes a vague unpunctual star,

A slippered Hesper ; and there are

Meads towards Haslingfield and Coton

Where das Betreten’s not verboten.

eϊθε  γενοίμην  .  . . .would I were

In Grantchester, in Grantchester !—

Some, it may be, can get in touch

With Nature there, or Earth, or such.

And clever modern men have seen

A Faun a-peeping through the green,

And felt the Classics were not dead,

To glimpse a Naiad’s reedy head,

Or hear the Goat-foot piping low: . . .

But these are things I do not know.

I only know that you may lie

Day-long and watch the Cambridge sky,

And, flower-lulled in sleepy grass,

Hear the cool lapse of hours pass,

Until the centuries blend and blur

In Grantchester, in Grantchester . . .

Still in the dawnlit waters cool

His ghostly Lordship swims his pool,

And tries the strokes, essays the tricks,

Long learnt on Hellespont, or Styx.

Dan Chaucer hears his river still

Chatter beneath a phantom mill.

Tennyson notes, with studious eye,

How Cambridge waters hurry by . . .

And in that garden, black and white,

Creep whispers through the grass all night ;

And spectral dance, before the dawn,

A hundred Vicars down the lawn ;

Curates, long dust, will come and go

On lissom, clerical, printless toe ;

And oft between the boughs is seen

The sly shade of a Rural Dean . . .

Till, at a shiver in the skies,

Vanishing with Satanic cries,

The prim ecclesiastic rout

Leaves but a startled sleeper-out,

Grey heavens, the first bird’s drowsy calls,

The falling house that never falls.

 

God ! I will pack, and take a train,

And get me to England once again !

For England’s the one land, I know,

Where men with Splendid Hearts may go ;

And Cambridgeshire, of all England,

The shire for Men who Understand ;

And of that district I prefer

The lovely hamlet Grantchester.

For Cambridge people rarely smile,

Being urban, squat, and packed with guile ;

And Royston men in the far South

Are black and fierce and strange of mouth ;

At Over they fling oaths at one,

And worse than oaths at Trumpington,

And Ditton girls are mean and dirty,

And there’s none in Harston under thirty,

And folks in Shelford and those parts

Have twisted lips and twisted hearts.

And Barton men make Cockney rhymes,

And Coton’s full of nameless crimes,

And things are done you’d not believe

At Madingley, on Christmas Eve.

Strong men have run for miles and miles,

When one from Cherry Hinton smiles ;

Strong men have blanched, and shot their wives,

Rather than send them to St. Ives ;

Strong men have cried like babes, bydam,

To hear what happened at Babraham.

But Grantchester ! ah, Grantchester !

There’s peace and holy quiet there,

Great clouds along pacific skies,

And men and women with straight eyes,

Lithe children lovelier than a dream,

A bosky wood, a slumberous stream,

And little kindly winds that creep

Round twilight corners, half asleep.

In Grantchester their skins are white ;

They bathe by day, they bathe by night ;

The women there do all they ought ;

The men observe the Rules of Thought.

They love the Good ; they worship Truth ;

They laugh uproariously in youth ;

(And when they get to feeling old,

They up and shoot themselves, I’m told). . .

 

   Ah God ! to see the branches stir

Across the moon at Grantchester !

To smell the thrilling-sweet and rotten

Unforgettable, unforgotten

River-smell, and hear the breeze

Sobbing in the little trees.

Say, do the elm-clumps greatly stand

Still guardians of that holy land ?

The chestnuts shade, in reverend dream,

The yet unacademic stream ?

Is dawn a secret shy and cold

Anadyomene, silver-gold ?

And sunset still a golden sea

From Haslingfield to Madingley ?

And after, ere the night is born,

Do hares come out about the corn ?

Oh, is the water sweet and cool,

Gentle and brown, above the pool ?

And laughs the immortal river still

Under the mill, under the mill ?

Say, is there Beauty yet to find ?

And Certainty ? and Quiet kind ?

Deep meadows yet, for to forget

The lies, and truths, and pain ? . . . oh ! yet

Stands the Church clock at ten to three ?

And is there honey still for tea ?


 "The Old Vicarage, Grantchester" ditulis pada pertengahan tahun 1912, salah satu periode paling bergejolak dalam kehidupan Brooke. Pada masa itu, Brooke mengalami krisis seksual, kebingungan tentang dorongan hasrat homoseksual dan frustrasi yang disebabkan oleh putus nya hubungan dengan seorang wanita yang ia sebut sebagai "pengganggu" Bloomsbury

. Serta pengaruh masa kecil ibunya yang tampaknya sering memberi tahu Rupert bahwa dia seharusnya seorang gadis, menanamkan dalam dirinya kecemasan yang mendalam tentang seksualitasnya.



Pada awal 1912, ketegangan ini memuncak dalam gangguan saraf. Brooke menghabiskan beberapa bulan untuk rehabilitasi, ketika itu ia tidak diizinkan untuk menulis puisi. Namun, pada musim panas, karena telah cukup pulih, ia melakukan perjalanan ke Jerman, perjalanan yang menandai awal dari hampir tiga tahun perjalanan konstan. 


Pada tahun 1913, Brooke menjadi anggota King's College, Cambridge, di tahun yang sama tepatnya Mei 1913, ia melakukan perjalanan ke Amerika Serikat, tempat ia menghabiskan empat bulan sebelum berlayar ke Selandia Baru, dan Pulau-Pulau di Selatan Pasifik. Dari tujuh bulan Brooke tinggal di Pasifik, tiga bulan dihabiskan di Tahiti, di mana, dia menulis salah satu karya puisi terbaiknya, 


Beberapa puisi yang ditulis Brooke selama periode ini dianggap sebagai salah satu puisinya yang paling efektif, termasuk " Tiare Tahiti " dan "The Great Lover."  inspirasi puisi pertama Brooke di Tahiti adalah seorang wanita bernama "Taatamata," Mereka berdua dipertemukan di Tahiti dan memiliki hubungan yang erat dan membara. Tidak heran, puisi yang dihasilkan adalah puisi cinta, penghargaan untuk tanah yang eksotis dan cinta yang penuh kegembiraan. 


Terlepas dari kebahagiaan yang akhirnya Brooke temukan di Tahiti, ia memutuskan untuk kembali ke Inggris pada musim semi 1914. 


Beberapa bulan setelah ia kembali, Perang Dunia pertama bergejolak. Brooke mendaftar segera sebagai Volunteer tepat setelah perang pecah, seperti kebanyakan pemuda di kelasnya, dan menggagalkan komisi perwira di Divisi Angkatan Laut Kerajaan di bawah komando Winston Churchill. Dia bergabung dengan Royal Navy Volunteer Reserve; tujuan pertama kelompok itu adalah Antwerpen, Daerah yang diduduki oleh Belgia, di mana mereka tinggal sampai awal tahun 1915. 


Daerah di sekitar Antwerp tidak begitu bergejolak saat itu, Tindakan yang kemudian dianggap tak berdarah menurut standar Front Barat, meskipun pemandangan barisan pengungsi yang melarikan diri dari kota mengguncangnya. Pada akhirnya, bagi Brooke dan rekan-rekan perwiranya yang berpendidikan klasik, Belgia bukanlah apa-apa: mereka lalu berlayar ke Troy.


Meskipun begitu Keheningan dalam pertempuran berubah menjadi periode yang cukup menginspirasi bagi Brooke dalam berkarya, karena saat itulah ia menghasilkan puisinya yang paling terkenal, kelompok lima soneta perang berjudul "Nineteen Fourteen."


Ditulis pada akhir tahun 1914, soneta ini mengungkapkan idealisme dan antusiasme penuh harapan yang digunakan Inggris untuk memasuki perang. Dalam soneta pertama, " Peach," Brooke bersukacita dalam perasaan bahwa perang itu melegakan bagi generasi yang hidupnya kosong dan hampa akan makna kehidupan.


Dalam soneta kedua, "Safety," Brooke terus menikmati datangnya perang dengan membandingkan kematian dengan tempat perlindungan yang melindungi para pengungsinya dari kengerian hidup.


Soneta ketiga dan keempat keduanya berjudul sama " The Dead, ". Dalam soneta keempat ini, Brooke sekali lagi melukiskan kematian sebagai keadaan yang positif dan murni. Bagi Brooke, kematian adalah seperti es tak hingga. 


Akhirnya, Brooke mengakhiri rangkaian soneta dengan " The Soldier ," puisi patriotiknya yang paling terkenal dan paling terkemuka. Dia membayangkan kematiannya sendiri, tetapi alih-alih menyampaikan kesedihan atau ketakutan pada peristiwa seperti itu, ia menerimanya sebagai kesempatan untuk melakukan pengorbanan yang mulia dengan mati untuk negaranya. 



The Soldier 


If I should die, think only this of me:

      That there’s some corner of a foreign field

That is for ever England. There shall be

      In that rich earth a richer dust concealed;

A dust whom England bore, shaped, made aware,

      Gave, once, her flowers to love, her ways to roam;

A body of England’s, breathing English air,

      Washed by the rivers, blest by suns of home.


And think, this heart, all evil shed away,

      A pulse in the eternal mind, no less

            Gives somewhere back the thoughts by England given;

Her sights and sounds; dreams happy as her day;

      And laughter, learnt of friends; and gentleness,

            In hearts at peace, under an English heaven.




Pada Februari 1915, dia berlayar ke Dardanelles. jalur air strategis penting antara Eropa dan Asia yang dikenal oleh orang Yunani kuno sebagai Hellespont. Di atas kapal ia menderita septikemia dari gigitan nyamuk. Dia meninggal pada 23 April 1915 di kapal rumah sakit di lepas pantai pulau Yunani Skyros dan dimakamkan di kebun zaitun di pulau itu. 


Soneta "Nineteen Fourteen " langsung terkenal. Pada hari Minggu Paskah tahun 1915, dekan Katedral St. Paul di London, William Ralph Inge, membacakan " The Soldier." Kematian Brooke tiga minggu kemudian memastikan bahwa namanya akan selalu terkait dengan soneta perang, dan dengan "The Soldier" secara khususnya. Seperti komentar AC Ward, "The Soldier" "menjadi satu-satunya puisi yang tak terpisahkan terkait dengan nama Rupert Brooke. Itu, sepanjang masa, batu nisannya—indah dan tenang."


Rupert Brooke menangkap optimisme bulan-bulan awal perang dengan puisi masa perangnya, yang diterbitkan setelah kematiannya, yang mengungkapkan idealisme tentang perang yang sangat kontras dengan puisi yang diterbitkan kemudian dalam konflik.

Post a Comment